Kamis, 10 November 20221 menit

Pilihan dan Penyesalan

Disclaimer, tulisan yang akan kamu baca adalah opini pribadi penulis saat tulisan ini dibuat. Anyway, selamat membaca!


Kata Nosstress “Hidup ini memang indah, takkan pernah sirna” dalam lagunya yang berjudul Rasa.

Kata orang hidup itu warna warni, katanya rasanya nano nano.

Kadang bahagia, kadang sedih, kadang juga monoton biasa-biasa saja, kadang rasanya pengen tidur dan malas-malasan (yea, your not alone my readers, I’m with you haha).

Kata orang hidup adalah pilihan, hidup adalah seni memilih katanya. Memilih mana yang menurut kita lebih baik, memilih mana yang mendingan.

Namun gimana kalau misalnya kita tidak bisa memilih? pilihan itu ada, cuman memang kita sendiri yang tidak bisa memilih — atau tidak berani memilih?

Sebagai seorang yang nature-nya selalu berfikir (self proclaim) dan sering sampai overthinking (anjay overthinking, edgy banget kan kata-kataku). Menentukan pilihan adalah hal yang sulit, why? Tentu saja karena pikiran udah kemana-mana. Pilihan belum dibuat pikiran udah dibayangi gimana 5 tahun kedepan? gimana kalau gak berhasil? dan bermacam-macam jenis “gimana” lainnya.

Gausah jauh-jauh sih, milih makan di Gr*b pun kita kesusahan? ya gak sih? hahaha


Opini pribadi, menurutku kita susah membuat pilihan karena kita sudah takut terlebih dahulu akan semua kemungkinan yang ada di otak kita (yang belum tentu terjadi). Kita (kemungkinan) takut menyesali pilihan yang akan kita buat, kita takut menyesal kalau ternyata pada akhirnya pilihan lain lebih mendingan.

Bahkan kalau kita tidak memilih sekalipun, penyesalan itu mungkin akan datang.

Let say analoginya kayak gini, misal kamu lulus S1 dan kamu dihadapkan antara lanjut S2 atau lanjut bekerja.

Seandainya kamu memilih bekerja, mungkin saja kamu akan menyesal karena tidak lanjut S2. Seandainya kamu memilih S2, mungkin saja kamu akan menyesal tidak bekerja. Seandainya kamu tidak memilih keduanya dan mungkin mengambil libur setelah lulus, mungkin saja kamu akan menyesal tidak memilih S2 atau lanjut bekerja. Pada akhirnya penyesalan adalah sesuatu yang pasti terjadi di hidup kita.

Namun, jika selamanya kita takut akan penyesalan, maka kapan kita akan membuat pilihan? Kapan kamu akan menentukan hal yang mau kamu lakukan?

Namun, kurasa penyesalan hanya terjadi ketika kita membandingkan hasil dari pilihan kita saat ini dengan “kemungkinan” hasil dari pilihan lainnya yang tidak kita pilih. Kenapa kubilang “kemungkinan”? Ya karena tentu saja pilihan lainnya gak kita ambil (we can’t do Kagebunshin no Jutsu, or maybe we can? in the future maybe? venermind mungkin kita sudah di mars saat itu tiba).

  • Misal saja kamu memilih bekerja, dan menyesal tidak lanjut S2. Tapi bukankah kamu bisa mensyukuri gaji yang kamu dapat? atau teman barumu di tempat kerja?

  • Misal saja kamu memilih lanjut S2 dan menyesal tidak lanjut bekerja. Tapi bukankah kamu bisa mensyukuri ilmu yang kamu dapat dari kuliah?

  • Misal saja kamu tidak memilih keduanya dan menyesalinya. Tapi bukankah kamu bisa mensyukuri bahwa kamu bisa punya waktu untuk liburan sebentar? atau mungkin mencoba hal yang belum sempat dicoba? atau mungkin menghabiskan waktu dengan keluarga?

The point is mau gak mau penyesalan memang harus dihadapi, karena pada akhirnya kamu yang menjalani hidupmu, kamu yang netuin mana yang mendingan. So enjoy your life dan jangan lupa bersyukur.

Jadi sudah siap menentukan pilihanmu?

Good luck!